Senin, 03 Januari 2011

Tabungan Kematian


Judul di atas mungkin menimbulkan kebingungan dan tanda tanya bagi para pembaca. Mungkin sebagian orang mengira apakah tabungan kematian ini untuk mengumpulkan uang sehingga seseorang yang akan meninggal telah siap secara finansial untuk membiayai prosesi sejak datangnya ajal hingga pemakamannya bahkan saat acara “tahlilan”. Atau mungkin ada yang menyangka tabungan kematian ini digunakan sebagai warisan untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak akan kekurangan.

Sebenarnya penulis memilih untuk menggunakan istilah yang tidak lazim ini untuk menekankan pentingnya momentum kematian bagi seorang manusia. Tabungan kematian yang dimaksudkan disini adalah upaya kita untuk “menabung” semua hal yang berguna pada saat kita menghadapi kematian.


Mengapa diperlukan tabungan kematian

Bukankah telah banyak orang mempunyai tabungan untuk mempersiapkan momen pernikahannya dan kelahiran anaknya atau bahkan menabung untuk berjaga-jaga saat dia sakit, entah dana itu dalam bentuk asuransi ataupun tabungan biasa. Tidak sedikit juga orang menabung untuk hari tua, pendidikan anaknya dan bahkan untuk jalan-jalan di masa liburannya.

a.    Tidakkah kita menyadari bahwa momen pernikahan dan kelahiran adalah hal yang belum pasti terjadi karena bisa jadi seseorang wafat dalam kondisi belum menikah dan tidak sedikit banyak manusia yang tidak memiliki keturunan. Jika untuk hal yang belum pasti terjadi saja kita telah mempersiapkan tabungan, lalu kenapa untuk kematian yang pasti terjadi kita tidak menyiapkannya?

“Tiap-tiap yang berjiwa (pasti) akan merasakan kematian… (QS. 3. Ali Imran : 185)

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. (QS 4. An Nisa’ : 78)”

b.    Tidakkah kita menyadari bahwa momen pernikahan adalah hal yang bisa ditunda ataupun dimajukan pelaksanaannya. Jika untuk hal yang saat pelaksanaannya bisa diubah saja kita telah mempersiapkan tabungan, lalu kenapa untuk kematian yang tidak bisa dimundurkan dan dimajukan kedatangannya kita tidak segera menyiapkannya?

“…Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)” (QS. 10. Yunus : 49)

c.    Tidakkah kita menyadari bahwa cobaan berupa penyakit yang akan menimpa kita sebenarnya rasa sakitnya walau memang berat dirasakan tapi tetap tidak akan menyaingi dahsyatnya dan beratnya sakaratul maut. Jika untuk hal yang “sedikit sakit” saja kita telah mempersiapkan tabungan, lalu kenapa untuk kematian yang pasti terjadi kita tidak menyiapkannya?

“Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. (HR. Ahmad)”

Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Dalam sebuah kisah, Nabi Isa as ditantang kaumnya untuk menghidupkan Sam dan Nabi Nuh as. Nabi Isa alalu pergi ke makam Sam dan Nuh as. Setelah sholat di atas kuburnya, Nabi Isa as. berdoa meminta Allah untuk menghidupkan kedua mayat itu. Atas kekuasaan Allah kedua mayat yang sudah lama meninggal itu bangkit kembali dari kuburnya. Rambut di kepalanya sudah memutih. Begitu melihat keduanya hidup kembali, Isa bertanya, "Berapa lama kau sudah meninggal?" tanya Isa. Keduanya lalu menjawab "Empat ribu tahun, tetapi sampai sekarang belum hilang rasa sakit saat skaratul maut.". Melihat mukjizat Allah ini, berimanlah kaum nabi Isa yang semula kafir itu.

Dalam  kisah yang lain, suatu ketika Nabi Idris a.s. memohon pada Alloh SWT agar ia dicabut nyawanya kemudian dihidupkan kembali  agar bertambah rasa takutnya kepada Alloh dan meningkatkan amal ibadahnya. Setelah dicabut nyawanya dan Alloh menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali, lalu ia ditanya Malaikat Izrail tentang sakaratul maut. Nabi Idris a.s kemudian menjawab "Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Lalu Malaikat Izrail berkata, "Itu adalah caraku mencabut nyawa dengan lemah lembut, hal ini belum pernah kulakukan sebelumnya dan baru kulakukan terhadapmu".

d.    Tidakkah kita menyadari bahwa ketika kita bepergian ke suatu tempat, sejauh apapun lokasinya tetap hanya ditempuh dalam beberapa hari saja. Jika untuk bepergian yang “dekat” saja kita telah mempersiapkan tabungan, lalu kenapa kita tidak menyiapkan untuk kematian yang nantinya kita akan menempuh perjalanan menuju akhirat yang sangat jauh dan akan kekal selama-lamanya?

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal (QS. 40. Al Mu’min : 39)

Apa yang perlu “ditabung”

Untuk mengetahui apa saja yang perlu kita “tabung” dalam menghadapi kematian, sebelumnya perlu mengetahui beberapa hal yang terjadi saat sakaratul maut datang.

a.    Ada beberapa orang yang meninggal dalam kondisi kebaikan (husnul khatimah) yang antara lain tandanya adalah ajal datang di saat ia menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, puasa, haji, umrah, dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Demikian juga ada yang mati dalam kondisi buruk (su’ul khatimah) yang antara lain tandanya adalah mati di saat ia berbuat ma’siat dan lalai akan agama.

b.    Orang yang sholih akan dicabut nyawanya dalam kondisi yang tenang sementara orang yang tidak taat pada Alloh akan dicabut nyawanya dengan keras.

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut (QS 79. An Naazi’aat : 1-2)

(Orang yang bertaqwa adalah) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun 'alaikum , masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS 16.An Nahl : 32)
     
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu"….(QS 6.Al An’am: 93)”

c.    Jika kita wafat dengan mengucap kalimat tauhid maka kita akan beruntung.
“Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)

Kita mungkin berpikir apakah sedemikian mudahnya syarat untuk masuk surga? Jika kita saksikan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, tentunya kita memahami bahwa tidak semua orang mampu mengucap kalimat keimanan ini. KH Abdullah Gymnastiar sering mengingatkan kita bahwa ceret akan menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Tidak mungkin ceret berisi kopi akan mengeluarkan susu. Jika kita ingin mampu mengucap kalimat thayyibah, maka hati kita haruslah juga dalam kondisi yang thayyibah (baik).

Dari ketiga hal di atas, tentunya kita dapat menyimpulkan bahwa apabila kita ingin memperoleh kondisi kematian yang baik, dimudahkan oleh Alloh dan akan memperoleh tiket surga maka kita harus menjadi orang-orang yang sholih. Untuk itu, marilah kita menabung kesholihan kita dengan memperbanyak amal sholih dan memiliki hati yang bening penuh dengan mengharap ridho Alloh.


Kapan harus “menabung” untuk kematian

Hari demi hari, umur kita kian bertambah dan semakin dekat kita menuju liang kubur. Angka harapan hidup manusia pun saat ini tampaknya makin berkurang karena saat ini sudah sangat jarang orang wafat dalam umur 100 tahun. Tingkat kematian akibat kecelakaan dan bencana alam pun sudah makin meninggi. Terlebih lagi, begitu banyak jenis penyakit yang berbahaya dan berujung pada kematian.

Manusia pun sebenarnya selalu diingatkan bahwa ia sedang berjalan mendekati kematian. Dalam sebuah kisah, Nabi Ya’kub as diceritakan dikunjungi Malaikat Izrail untuk bersilaturrahim. Nabi Ya’kub lalu mengajukan permohonan agar jika malaikat maut datang di kemudian hari untuk mencabut nyawanya, malaikat maut harus mengirim utusan untuk memberitahukan bahwa ajalnya makin dekat.

Setelah sekian lama waktu berlalu, ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Ya’kub AS untuk mencabut nyawa, Nabi Ya’kub bertanya, "Bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu?" Malaikat maut menjawab, "Demi Allah, telah banyak utusanku memberi peringatan wahai Nabi Allah,” Nabi Ya’kub berkata,"Aku tidak mengetahui dan mengenalinya," Malaikat maut menjawab pula, "Utusanku itu berupa sakit yang kau derita, uban yang makin banyak di rambutmu, pendengaranmu yang makin berkurang dan penglihatan yang makin kabur."

Jika ada yang di antara kita ditanya, “Siapkah Anda untuk mati saat ini?”. Kebanyakan bahkan mungkin seluruh orang akan menjawab, “Saya belum sanggup dan belum mau mati saat ini.” Jika kita mengingat kembali bahwa ajal tidak mungkin ditunda waktunya, maka sebenarnya ajal bukanlah sebuah pilihan namun sebuah kepastian. Untuk itu, mau tidak mau dan suka tidak suka, kita sudah harus banyak-banyak “menabung” kesiapan kita untuk menghadapi maut.

Mari kita “menabung” untuk kematian mulai saat ini juga. Mari kita sering-sering bertanya pada diri sendiri, “Sudah berapa banyak saldo tabungan mautku saat ini, apakah cukup banyak amalannya atau malah defisit?”. Mari kita pergunakan seluruh kemampuan dan apa yang ada pada diri kita untuk kebaikan.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. 63. Al Munafiqun :10)
 
Manusia yang paling cerdas itu adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk itu. Para sahabat bertanya: Adakah baginya tanda-tanda ya Rasulullah? Rasul menjawab: Ada, yaitu menjauh dari tipu daya (hura-hura) kehidupan dunia dan mendekat kepada kehidupan yang kekal (akhirat). Apabila telah masuk cahaya (nur) ke dalam hatinya, dia buka dan lapangkan hatinya untuk mempersiapkan diri sebelum maut menjelang,” (H.R. Ibnu Majah).

Fisika Bicara Tentang Ukhuwwah


Sesungguhnya Alloh SWT telah menebarkan nasihat kehidupan untuk manusia di muka bumi ini agar menjalani hidup sebagaimana mestinya, termasuk dalam hal persaudaraan. Nasihat tersebut terkadang berupa hikmah yang harus direnungi, sebagaimana kita men-tadabburi berbagai ciptaan Alloh, seperti Ilmu Fisika.


Pendahuluan
Ukhuwwah Islamiyyah merupakan anugerah yang agung dan mahal dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan ini merupakan nikmat kepada para hamba-Nya yang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) saling bermusuhan, maka Allah  mempersatukan hati-hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya.” (Ali Imran: 103)

Ukhuwwah Islamiyyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang dalam terhadap kasih sayang, mahabbah (kecintaan), kemuliaan dan rasa saling percaya sesama orang yang terikat dengan aqidah Islam, iman dan taqwa. Perasaan persaudaraan ini melahirkan sikap positif, seperti tolong-menolong, mengutamakan orang lain, kasih sayang, pemaaf, pemurah, setia kawan dan sikap mulia lainnya. Demikian pula persaudaraan ini dapat menjauhkan setiap yang membahayakan manusia, baik yang menyangkut diri, harta dan kehormatan.

Sejarah telah membuktikan bahwa rasa ukhuwwah yang mumpuni dapat melekatkan hubungan yang luar biasa. Mari kenang kembali betapa Rosululloh SAW dan para sahabatnya begitu cintanya kepada seluruh orang yang beriman. Kita juga dapat melihat betapa hebatnya pengorbanan kaum Anshor di Madinah terhadap para Muhajirin dari Makkah sehingga mereka tidak segan berbagi harta dan saling membantu.

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9)

Dalam peperangan di Padang Karbala, kita juga dapat mengenang rasa itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain pada kisah pejuang muslim yang sekarat dan kehausan namun lebih memilih untuk memberikan kesempatan untuk meneguk air minum kepada rekannya. Kita juga sebaiknya tidak melupakan bagaimana sebuah kisah menyejukkan dimana ketika salah seorang sahabat berniat memberikan masakan daging kambing kepada tetangganya namun karena setiap orang dengan ikhlasnya lebih memilih untuk memberikannya kepada tetangganya yang lebih membutuhkan akhirnya masakan itu kembali pada dirinya dengan utuh setelah melalui tangan beberapa tetangga. Berbagai kisah yang ada tersebut mencerminkan bahwa salah satu karakter yang harus ada pada insan yang beriman adalah ukhuwwah.

”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka....” (QS Al Fath : 29)
           

Ukhuwwah Dalam Fisika

Jika ditelisik lebih dalam, ukhuwwah sebenarnya merupakan salah satu bentuk hubungan psikologis antara dua orang yang beriman dengan melibatkan unsur hati dan rasa. Ukhuwwah tentunya membutuhkan keberadaan interaksi antara kedua orang tersebut. Apabila interaksi ini hanya bersifat sepihak, maka ukhuwwah tidak akan tercipta dengan baik sebagaimana mestinya.

Dengan rasa ukhuwwah yang tinggi, kedua orang mukmin yang berinteraksi tersebut seolah-olah memiliki rasa kedekatan yang juga tinggi. Keduanya terlihat menyatu dan begitu lekat, terutama pada hati mereka yang sepertinya memiliki gaya tarik-menarik sehingga menjadi begitu akrabnya. Demikian pula sebaliknya, pada orang yang tidak memiliki unsur ukhuwwah, baik keduanya ataupun hanya salah satunya, maka antara hati mereka pun berjauhan bahkan mungkin akan saling bertolak belakang.

Karena ukhuwwah terkait dengan hubungan antar manusia dan terjadi gaya tarik-menarik dan tolak-menolak antara hati keduanya, sebenarnya, kita juga dapat menelaahnya dalam cara pandang berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti Fisika. Walaupun dikenal sebagai ilmu yang njelimet dengan berbagai rumusnya, Ilmu Fisika sebenarnya tidak melulu berbicara masalah hitung-hitungan. Jika kita membedah aspek filosofinya, kita juga dapat mengupas tentang ukhuwwah sebagaimana pada sekelumit hal dalam Fisika berikut ini :


Konsep Gaya Tarik Menarik dan Tolak Menolak

Apabila ingin membahas tentang hubungan interaksi tarik-menarik dan tolak menolak, seperti ukhuwwah, maka di dalam ilmu fisika, terdapat sebuah prinsip hukum gaya interaksi antara dua benda. Gaya interaksi ini diuraikan oleh ilmuwan Fisika terkenal, Sir Isaac Newton, dengan hukum gravitasi alam semesta. Dalil ini juga kemudian diadaptasi untuk gaya tarik menarik antara dua muatan listrik statis dengan hukum Coulomb ataupun gaya tarik menarik antara dua kutub magnet.

Dalam dalil tersebut dijelaskan bahwa pada dua buah obyek benda di jagat raya ini sebenarnya terdapat gaya tarik menarik yang sebanding dengan sebuah nilai tertentu yang disebut konstansta, sebanding dengan kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan jarak antara kedua benda secara kuadratis. Apabila massa kedua benda semakin besar dan jarak antara keduanya semakin kecil maka gaya tarik menarik antara keduanya akan semakin besar. Demikian juga yang akan berlaku sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi pada listrik statis dan kutub magnet yang dipengaruhi oleh besar muatannya dan besar kekuatan kutub magnetnya.

Apabila ingin membahas tentang hubungan interaksi tarik-menarik, seperti ukhuwwah, maka di dalam ilmu fisika, terdapat sebuah prinsip hukum gaya interaksi antara dua benda. Gaya interaksi ini diuraikan oleh ilmuwan Fisika terkenal, Sir Isaac Newton, dengan Hukum Gravitasi Alam Semesta. Dalil ini juga kemudian diadaptasi untuk gaya tarik menarik antara dua muatan listrik statis dengan hukum Coulomb ataupun gaya tarik menarik antara dua kutub magnet.

Prinsip ini juga dapat diterapkan pada hubungan ukhuwwah. Gaya tarik menarik antara kedua obyek alam semesta dengan gravitasi, ataupun pada magnet dan muatan listrik dapat dianalogikan dengan pengaruh yang kuat dalam ukhuwwah sehingga menimbulkan ketertarikan dan kedekatan hati antara kedua orang mukmin. Dengan demikian, dengan mengadopsi prinsip fisika, besarnya kekuatan ukhuwwah juga dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu :

a.      Membutuhkan Keimanan

Sebuah magnet sebesar apapun tidak akan mampu untuk menarik sebuah kayu, plastik dan benda lain yang tidak memiliki sifat konduktor magnet. Demikian pula dengan ukhuwwah, ia tidak akan muncul apabila dilakukan bukan atas dasar keimanan. Ia hanya akan menjadi hubungan biasa yang tak bermakna.

Ukhuwwah Islamiyyah adalah sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Tidak ada ukhuwwah tanpa iman, dan tidak ada iman tanpa ukhuwwah. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al Qur’an
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. …. (QS. Al Hujuraat : 10)”

Sesungguhnya yang menimbulkan cinta dan ukhuwwah adalah Alloh. Sehebat apapun usaha manusia untuk menumbuhkan ukhuwwah namun jika tidak dilandasi karena Alloh maka akan sirna belaka.

”Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 63)

Rosululloh SAW pun telah menyitir hal ini dalam haditsnya bahwa dengan cinta yang tulus murni dan ikhlash yang menjadi prasyarat terciptanya hubungan yang kokoh hanya bisa dicapai apabila dilandasi karena Alloh SAW.

”Paling kuat tali hubungan keimanan (antara sesama mukmin) ialah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh. (HR. Ath-Thabrani”)



b.      Besarnya muatan internal

Pada dua buah magnet yang kecil yang melekat karena memiliki gaya tarik menarik, kita dapat mengamati bahwa akan sangat mudah untuk memisahkan antara keduanya. Demikian pula dengan mudahnya dapat dipahami bahwa akan semakin sulit memisahkan dua buah magnet berukuran besar karena gaya magnet keduanya juga membesar. Hal yang sama juga akan terjadi pada dua buah muatan listrik statis.

Gejala ini tentunya dapat dijelaskan dengan teorema hubungan interaksi dalam Hukum Gravitasi Alam Semesta. Besarnya gaya interaksi antara kedua benda, termasuk magnet dan muatan listrik, sebanding dengan besarnya muatan internal pada keduanya. Pada gravitasi, jika massa kedua benda makin besar maka gaya tariknya akan bertambah. Demikian juga gaya tarik pada magnet dan listrik statis yang dipengaruhi oleh besarnya kutub magnet dan besarnya muatan listrik.

Dengan demikian, sesungguhnya Alloh SWT ingin berpesan kepada kaum muslimin melalui ilmu Fisika bahwa apabila ingin meningkatkan kualitas ukhuwwah islamiyyah maka kita masing-masing harus memperbesar intensitas muatan internal yang ada pada diri masing-masing. Jika berbicara ukhuwwah maka muatan internal yang dimaksud tentunya adalah rasa cinta karena iman dan keterbukaan hati yang dipengaruhi oleh taqwa.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan melalui Anas bin Malik ra bahkan digambarkan hubungan antara kekuatan iman dan besarnya ukhuwwah islamiyyah dimana Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri. (Shahih Muslim)”.
Fisika ternyata telah mengajarkan pada kita bahwa apabila kita menginginkan adanya rasa ukhuwwah yang sejati dan kedekatan yang hangat, maka kedua belah pihak juga harus meningkatkan rasa kecintaannya.  

c.       Memperkecil Jarak dan Kesenjangan

Dua buah magnet akan menunjukkan interaksinya apabila telah berada pada medan magnet. Jika kita memisahkan keduanya pada jarak tertentu maka gaya magnetnya tidak akan memiliki pengaruh. Semakin jauh jarak keduanya maka akan semakin kecil gaya tarik menariknya bahkan jika makin menjauh maka akan menjadi nol. Sebaliknya juga akan semakin besar gaya itu jika makin mendekat.

Hal ini juga terlihat dari prinsip gravitasi bahwa gaya tarik menarik berbanding terbalik dengan jarak antara kedua benda secara kuadratis. Artinya, semakin dekat jarak kedua benda maka yang akan muncul antara keduanya akan meningkat secara drastis. Pertambahan besarnya gaya akibat pengurangan jarak ini bahkan lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan penambahan muatan internal.

Demikian pula yang berlaku pada ukhuwwah. Jika kita menginginkan ikatan hubungan ukhuwwah yang kuat maka kita harus memperpendek jarak dan kesenjangan, terutama yang bersifat batin. Dalam hal ini, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memelihara silaturrahim dengan memperbanyak berkunjung ke rumah saudara seiman dengan berjumpa dan berpisah karena Alloh.   

Berbagai upaya untuk menjauhkan hubungan dengan sesama muslim seperti permusuhan dan kebencian adalah hal yang dibenci. Islam bahkan mengecam keras bagi seorang yang berupaya menjauhi saudaranya apalagi memutuskan tali silaturrahim. Lebih dari itu, jikapun terpaksa kita berkonfrontasi, maka batas maksimalnya hanyalah tiga hari dan itupun adalah hal yang harus dijauhi.

”Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim)”

Alloh SWT amat menyukai orang yang berupaya mempunyai kedekatakan hati dengan sesama muslim bahkan bagi yang suka melakukan silaturrahim akan diberi fasilitas tambahan.

”Dari Anas bin Malik ra., ia berkata Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan silaturahim. (Shahih Muslim)


Konsep Aksi dan Reaksi

Dalam salah satu Hukum Newton lainnya, telah diungkapkan bahwa apabila diberikan sebuah gaya pada sebuah benda maka benda tadi akan berbalik memberikan gaya dengan besaran yang sama. Secara sederhana, Newton ingin menegaskan bahwa apabila ada sebuah aksi maka akan timbul reaksi.

Demikian pula dalam ukhuwwah. Sebuah respon terhadap hubungan yang diinginkan terbina tidak akan muncul apabila kita tidak pernah memberikan ”aksi ukhuwwah” dengan menunjukkan rasa cinta kita pada saudara seiman seperti mengucapkan salam, berjabat tangan, berpelukan, berdiskusi, berdialog, curhat atau yang sederhana seperti memberi senyuman hingga memberi hadiah.

Kita sebaiknya menerapkan konsep ini bahwa cinta membutuhkan pembuktian. Hal ini juga tersirat dalam sebuah nasihat.

”Jika kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan makin saling menyayangi”


Penutup

Ukhuwwah Islamiyyah adalah hubungan yang akan terbina dengan baik apabila kita berupaya menyatu dengan saudara seiman dan menyelami serta memahami apa yang ada padanya sebagaimana hadits:

Dari Nukman bin Basyir ra., ia berkata Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim)

Syirik On-line

“ Mau sukses? Pengen tahu profesi yang cocok untukmu? Gampang, ketik REG spasi NAMA KAMU kirim ke XXXX”

“ Apakah pasangan Anda sudah cocok? Ketik REG spasi NAMA dan NAMA PASANGAN KAMU kirim ke XXXX”

Kedua rangkaian kalimat di atas tentunya bukanlah hal yang asing di telinga kita. Di berbagai media massa seperti televisi dan surat kabar banyak sekali terdapat iklan yang isinya tidak jauh berbeda. Peredarannya diyakini ada setiap hari bahkan tiap jam berseliweran masuk ke telinga dan benak pikiran kita.

Jika kita runut lebih dalam, fenomena yang dianggap umum oleh masyarakat ini menyimpan bahaya laten yang terselubung dalam kemasan yang menarik. Tidakkah kita menyadari bahwa bahaya virus perusak akidah seperti ini amat mengancam diri dan keluarga kita ?

Syirik Modern

Pada contoh yang pertama, iklan tersebut menawarkan kepada masyarakat untuk meramalkan nasibnya atau meramalkan jenis pekerjaan apa yang cocok bagi seseorang cukup dengan referensi nama yang dikirimkan via sms. Bentuk iklan lain yang sejenis menawarkan ramalan berdasarkan tanggal lahir, hari kelahiran menurut pasaran jawa (weton), bulan lahir (zodiak dan shio) atau bahkan cukup berdasarkan nomor telepon selular sang pengirim. Metode ramalannya pun terkadang menggunakan kartu tarot, horoskop, feng shui, buku primbon ataupun beberapa acuan cara lainnya.

Sejatinya, hal-hal tersebut tidak lain merupakan upaya meramal nasib seseorang yang dikemas dengan gaya modern. Jika dahulu orang harus mendatangi sang peramal dan media yang digunakan adalah bola kristal atau baskom berisi air mantera, kini cukup dengan menggunakan media telekomunikasi dan langsung terhubung alias on-line.

Walau telah berkali-kali kita dengar dan pelajari sebelumnya dari para ustadz dan ulama, terkadang kita masih saja tidak yakin bahwa hal yang ghaib adalah milik Alloh semata. Hal ini ditegaskan dalam firmanNya pada ayat berikut :

“Katakanlah : "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan”  (QS. 27. An Naml : 65)

 “(Alloh adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu” (QS 72. Jin : 26)

Di kalangan masyarakat kita, beberapa atau mungkin kebanyakan bahkan meyakini bahwa ada sejumlah orang pintar yang memiliki kelebihan dapat mengetahui berita ghaib sehingga bisa meramalkan masa depan. Ketahuilah bahwa orang mengetahui hal ghaib dari jin yang bekerja sama dengannya dimana berita itu diperoleh dengan cara mencuri dengar rahasia Alloh di langit. Padahal, jin mendapatkannya dengan resiko dibakar dengan panah api oleh malaikat.

“Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang,  barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (QS 71 Al Jin : 8-9)

Lebih jauh lagi, apabila seseorang minta diramal nasibnya atau menanyakan perihal masa depannya kepada seseorang lalu mempercayai ramalan tersebut, maka sesungguhnya dia telah percaya ada makhluk yang mampu untuk mengetahui hal ghaib selain Alloh dan ada yang menyamai kemampuan atau sifat Alloh sebagai Al ‘Alim (Maha Mengetahui).

Dalam konsep keimanan, kita harus meyakini bahwa Alloh SWT memiliki sifat mukholafatu lil hawadist atau tidak akan pernah serupa/sama sifat maupun kemampuannya  dengan makhluk. Filosofi penting lainnya yang begitu akrabnya di telinga adalah kita harus meyakini konsep la hawla wa la quwwata illa billaah atau tiada daya upaya dan kekuatan apapun yang dominan kecuali yang dimiliki Alloh SWT. Dengan demikian, perbuatan ini sama kategorinya dengan mempersekutukan Alloh dan jatuhlah hukum syirik padanya sebagaimana pada hadits berikut :

Sahabat Imran bin Husfaain ra berkata, bahwa Rasulul­lah saw telah bersabda: "Tidak termasuk umatku orang yang percaya kepada ocehan burung atau orang yang meramal ocehan burung, orang yang minta diramal nasibnya atau orang yang meramalnya, dan orang yang menyihir atau orang yang dimintai tolong untuk menyihir orang lain. Dan barangsiapa datang kepada juru nujum (tukang ramal), kemudian dia percaya kepada apa yang dikatakannya, berarti dia telah melakukan tindak kekufuran terhadap apa yang diwahyukan kepada Muhammad saw." (HR. Bazar dengan sanad yang bagus).

Ramalan Untuk Iseng
Mungkin beberapa di antara kita ada yang berkelit bahwa ia hanya iseng-iseng saja dengan mengirimkan sms untuk sekedar tahu bagaimana masa depannya. Sama juga dengan membuka rubrik ramalan zodiak/bintang di media cetak untuk memotivasi dirinya berbuat lebih baik. Ketahuilah, dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa hanya dengan mendatangi peramal dan mencari tahu kabar masa depannya walau mungkin iseng dan tidak percaya adalah sangat tidak diperbolehkan dalam Islam. Terlebih lagi, secara tidak  sadar kita lalu mengkait-kaitkannya dengan kondisi yang ada sehingga akhirnya sedikit percaya hingga ia menjadi kufur/ingkar pada Alloh. Jangan lupa bahwa tindakan kita mengirimkan sms ramalan atau membaca rubrik ramalan adalah sama saja dengan mendatangi peramalnya.

Sahabat Wailah bin Asqa' ra berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa datang kepada seorang dukun kemudian menanyakan sesuatu, maka tidak akan diterima taubatnya selama empat puluh hari. Dan bila kemudian percaya kepada apa yang dikatakan si dukun, berarti dia telah melakukan tindak kekufuran." (HR. Tabrani).

Hadits di atas menunjukkan bahwa hanya dengan datang ke peramal dan menanyakan ramalan saja akan menyebabkan taubatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Hal ini terjadi dikarenakan oleh kedatangan dan pertanyaannya tentang hal tersebut menunjukkan betapa niatnya untuk syirik dan mengotori hatinya walaupun kesannya pura-pura, tidak disengaja dan iseng. Perkara syirik atau mempersekutukan Alloh adalah hal yang sangat besar keberadaan dan  dampaknya karena dianggap kezaliman yang besar di mata Alloh SWT.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS 31. Luqman : 13)

Dalam sumber hadits yang lain bahkan disebutkan bahwa rasa ingin tahu manusia pada berita ghaib tentang masa depan lalu membenarkannya maka dapat membuat ibadah sholatnya tidak diterima oleh Alloh SWT. Hal ini bukan berarti bahwa orang-orang yang diramal lebih baik tidak usah sholat saja karena toh pasti ditolak Alloh SWT.

Sahabat Shafiyah binti Abi Ubaid mengetengahkan sebuah riwayat bersumber dari salah seorang istri Rasulullah, ba­hwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa berkunjung ke dukun kemudian menanyakan sesuatu, lalu dia membenarkan kata-kata si dukun, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim).

Hadist di atas adalah sejalan dan seirama dengan ayat Alloh yang menggambarkan bahwa perbuatan syirik adalah hal yang benar-benar harus dihindari karena dapat menyebabkan dihapuskannya amal ibadah kita dan membuatnya menjadi tidak berarti di mata Alloh seperti dalam ayat berikut ini :

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS 6. Al An’am : 88)

Lebih jauh lagi, orang yang melakukan perbuatan syirik seperti ingin mengetahui ramalannya tersebut hanya akan membuat surga yang didambanya akan semakin jauh dari harapannya. Para pelaku syirik yang dikenal juga dengan istilah musyrik oleh Alloh diberi label sebagai orang yang diharamkan masuk surga.. Na’udzubillahi min dzaalika.

“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS Al Maidah : 72)

Hal yang senada juga disampaikan dalam hadits berikut ini :
Sahabat Abi Musa Al-Asy'ari ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Selamanya tidak akan pernah masuk sorga orang yang selalu minum minuman keras, orang yang per­caya kepada sihir, dan orang yang memutus tali persaudaraan." (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

Bahaya Lain dari Syirik
Selain bahayanya syirik sebagaimana dijelaskan di atas yaitu menjadi kufur, melakukan kezaliman yang besar, ditolak taubat dan ibadah sholatnya selama 40 hari serta akan diharamkan masuk surga, sesungguhnya masih banyak lagi bahaya lain dari syirik.

Perbuatan mempersekutukan Alloh SWT dengan sesuatu apapun akan diganjar dengan dosa yang amat besar dan dosa tersebut tidak akan diampuni Alloh SWT, padahal Dia adalah Maha Pengampun.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS 4. An Nisa: 48)

Syirik juga menjadi suatu hal yang harusnya benar-benar kita hindari sekecil apapun itu dalam bentuk apapun. Syirik adalah perbuatan yang oleh Alloh disebut sebagai kesesatan yang amat parah.

“…Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS 4. An Nisa: 116)

Wallahu a'lam bish showab.

Bahaya Normalisasi Dosa: Antara Toleransi dan Ketegasan dalam Akhlak

Mari kita renungkan satu pertanyaan sederhana namun sangat penting: "Apakah kita masih merasa risih ketika melihat kemaksiatan?" P...